Bagi setiap Muslim yang menapakkan kaki di Kota Madinah, ada satu tempat yang selalu menjadi magnet kerinduan. Sebuah area kecil di dalam Masjid Nabawi, yang selalu dipadati oleh air mata haru, untaian doa, dan aroma wewangian yang khas. Tempat itu adalah Raudhah (secara harfiah berarti "Taman").
Bagaimanakah kisah di balik keindahan spiritual tempat ini, dan dari mana asal-usulnya? Mari kita kembali ke masa 14 abad yang lalu.
Asal-usul Raudhah tidak bisa dipisahkan dari sejarah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, unta yang ditunggangi Nabi berhenti di sebuah tanah kosong milik dua anak yatim. Di sanalah Masjid Nabawi pertama kali dibangun dengan sangat sederhana: bertiang pohon kurma, berdinding tanah liat, dan beratap pelepah kurma.
Di sisi masjid, dibangun pula bilik-bilik sederhana untuk istri-istri Nabi, termasuk bilik Sayyidah Aisyah RA.
Di sinilah batas fisik Raudhah terbentuk. Jarak antara rumah tempat Nabi tinggal (yang kini menjadi makam beliau) dengan mimbar tempat beliau berkhutbah adalah area yang sangat istimewa. Rasulullah SAW bersabda:
"Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman (raudhah) dari taman-taman surga." (HR. Bukhari & Muslim)
Ada sebuah kisah legendaris yang terjadi tepat di area Raudhah ini. Pada masa-masa awal, Masjid Nabawi belum memiliki mimbar yang megah. Setiap kali berkhutbah, Rasulullah SAW selalu bersandar pada sebatang pohon kurma yang mati yang dijadikan tiang masjid.
Seiring bertambahnya jumlah jemaah, para sahabat berinisiatif membuatkan mimbar kayu dengan tiga anak tangga agar suara Nabi terdengar lebih jelas.
Pada hari Jumat pertama setelah mimbar baru itu selesai, Rasulullah SAW melewati batang kurma tua tersebut dan langsung naik ke atas mimbar baru untuk memulai khutbah. Tiba-tiba, terdengar suara tangisan yang sangat memilukan dari dalam masjid.
Melihat hal itu, Rasulullah SAW turun dari mimbarnya. Beliau menghampiri batang kurma tersebut, lalu memeluknya dengan erat. Begitu dipeluk oleh Nabi, perlahan-lahan suara tangisan itu mereda, seperti anak kecil yang ditenangkan setelah menangis tersedu-sedu.
Rasulullah kemudian bersabda bahwa jika beliau tidak memeluknya, batang kurma itu akan terus menangis hingga hari kiamat karena kerinduannya kepada Rasulullah. Kejadian bersejarah dan sarat cinta ini terjadi tepat di dalam kawasan yang kini kita sebut sebagai Raudhah.
Para ulama memiliki beberapa tafsir indah mengenai sabda Nabi yang menyebut area ini sebagai taman surga:
Kini, area Raudhah ditandai secara fisik di dalam Masjid Nabawi untuk memudahkan para peziarah mengenalinya. Jika karpet Masjid Nabawi secara umum berwarna merah, maka khusus di area Raudhah, karpetnya berwarna hijau muda.
Di sana juga berdiri tiang-tiang putih berukir emas yang memiliki sejarahnya masing-masing, seperti Tiang Aisyah, Tiang Taubat (Abu Lubabah), dan Tiang Delegasi.
Bagi siapa saja yang berkesempatan bersujud di atas karpet hijau itu, mereka tidak hanya sedang berada di sebuah tempat bersejarah, melainkan sedang menitipkan doa-doa terbaik mereka langsung di salah satu sudut surga yang sengaja Allah turunkan ke bumi.